HUT TNI KE 73, KISAH BERDIRINYA SUAR KARANG UNARANG DI AMBALAT

Karang Unarang, Nunukan – Pangkalan TNI AL Nunukan dan Tim Satgas Garda Nusa 2018 melaksanakan pergantian Bendera Merah Putih di Suar Karang Unarang dalam rangka memperingati HUT TNI ke 73 th 2018 dengan menggunakan KAL Ambalat I-13-45 dan 1 Unit Sea Rider.
Menurut Komandan Lanal Nunukan, Letkol Laut (P) M. Machri Mokoagow, M.Tr.Hanla, bahwa Penggantian bendera Merah Putih di Suar Karang Unarang ini sengaja dilaksanakan dgn mengambil moment HUT TNI Ke 73 dgn tujuan untuk menimbulkan kebanggaan dan mengobarkan semangat juang para prajurit yg bertugas di perbatasan RI – Malaysia, baik yg bertugas di Satgas Garda Nusa 18 sebagai Satuan Tugas yang menjaga wilayah perbatasan laut maupun Satgas Gawi Manuntung 18 sebagai Satuan tugas yg menjaga wilayah perbatasan darat.

Sekilas tentang keberadaan Suar karang unarang yang terletak di Perairan Ambalat tidak jauh dari Perairan Sipadan Ligitan yg berbatas langsung dengan Malaysia.

Karang Unarang adalah nama sebuah karang yang berada di Laut Sulawesi terletak sekitar 9 mil di sebelah tenggara Pulau Sebatik Periaran Indonesia pada koordinat 04°00′38″LU,118°04′58″BT.
Pada awalnya Karang Unarang hanya muncul pada saat air laut surut. Saat air laut surut pada posisi terendah, ketinggian karang hanya mencapai 30 cm.

Pemerintah Indonesia kemudian membangun suar permanen di Karang Unarang terhitung mulai tanggal 21 Februari 2005 sampai dengan 14 April 2005.
Fondasi bangunan Mercusuar berukuran 45 x 45 meter, ketinggian 80 meter, yang dapat dilihat dari jarak 10 Mil.

Dalam pelaksanaannya, proses tahap pembangunan Mercusuar Karang Unarang tsb sering mendapat ancaman dari Pihak AL Malaysia, bahkan pernah sekali waktu para pekerja didatangi dan diintimidasi oleh Pihak Tentara Laut Malaysia dan Police Marine Malaysia dengan menggunakan Kapal perang dan Kapal Patroli Malaysia.

Melihat hal tersebut, pd tahap selanjutnya Proses pembangunanan Suar Karang Unarang mendapat pengawalan dari TNI AL dengan menggunakan KRI atau Kapal Perang Indonesia.

Suatu ketika, pada 1 April 2005, pihak Malaysia mencoba kembali untuk mengganggu proses pembuatan Suar Karang Unarang dgn menerjunkan kapal Marine Police dan TLDM.

Pada saat itu, Kapal patroli TNI AL, KRI Tedong Naga-819 yang mengawal proses pembangunan Suar Karang Unarang langsung melaksanakan penjagaan dan salah satu Personel Pasukan Katak TNI AL (Kopaska) a.n Serka Ismail meminta ijin kepada Komandan KRI dan Dantim Kopaska Lettu Laut (E) Berny Hunsam untuk mengusir kedua Kapal Malaysia tsb. Permintaan ini diijinkan dengan syarat pengusiran dilaksanakan tanpa menggunakan Senjata, Serka Ismail dengan ditemani dua rekannya, Serda Muhadi dan Kelasi Satu Yuli Sungkono lalu bergegas hanya dibekali sebuah perahu karet, bergerak mendekati Kapal Patroli Malaysia. Agar aksinya tidak menimbulkan kekerasan dengan pihak Malaysia, Serka Ismail mengemudikan perahu karet dengan kecepatan tinggi. Ia sengaja membuat pergerakan manuver zig-zag.

Pergerakan ini berhasil mencuri perhatian anak buah kapal (ABK) kapal Malaysia. Pada saat perhatian ABK Kapal Malaysia dapat dialihkan, kemudi perahu karet diambil alih oleh Serda Muhadi dan kembali melakukan pergerakan lebih lincah, sementara itu, Serka Ismail telah menjatuhkan tubuhnya dari sisi perahu yang tak terlihat, menyelam dan berenang dgn senyap menuju kapal Malaysia.

Pada tahap selanjutnya, Serka Ismail melompat ke atas geladak kapal Malaysia. langsung mendobrak pintu samping kapal.

Seorang ABK pun sadar akan suara dobrakan pintu itu. Namun, ia justru ketakutan mendengar bentakan Serka Ismail yang menanyakan keberadaan komandan kapal. Serka Ismail bahkan membentak ABK yang bersiap menembakkan meriam, tidak lama, Komandan kapal pun menghampiri Serka Ismail, Ia dan ABK lainnya tak sadar atas kemunculan Serka Ismail yang muncul secara tiba-tiba.

“ Mengapa lego jangkar di sini dan sedang apa kamu di sini?” tegas Ismail pada Komandan kapal Malaysia.

Sang Komandan kapal pun berkilah, Ia mengaku hanya mengikuti Perintah.

“Baiklah kalau begitu, saya turun dari kapal ini, segera pergi dari wilayah ini. Kalau tidak, jangkar akan saya putuskan,” bentak Serka Ismail.

Komandan kapal Malaysia pun menurut dan pergi. Setelah Serka Ismail kembali ke perahu karet, ternyata kapal kedua justru masih bertahan dan berulah, Serka Ismail dan kedua rekannya kembali mengarah ke kapal tersebut.

Rupanya, para ABK telah bersiap, berjaga di setiap sudut, bahkan dilengkapi senjata.

Strategi sebelumnya pun sulit dilakukan lagi, tetapi dgn cara dan teknik yang lain lagi Serka Ismail dan rekan2nya berhasil mendekat ke jangkar kapal Malaysia, lalu Serka Ismail dengan percaya diri mengancam ABK kapal Malaysia, bahwa kalau tidak segera meninggalkan wilayah perairan Karang Unarang maka rantai jangkar akan diputuskan sambil menggoyangkan rantai jangkar kapal.

Ternyata, usaha ini pun berhasil, Kapal itu akhirnya angkat jangkar dan menyusul Kapal yang lebih dulu kabur.

Walaupun tanpa sejata, Serka Ismail dan tim mampu menaklukan lawan tanpa adanya pertumpahan darah.

Kemudian setelah 12 Tahun, dilaksanakan renovasi terhadap Suar Karang Unarang. Pemugaran ke 2 pada pertengahan Tahun 2017, sekitar bulan Juni kembali Kapal Perang Tentara Laut Malaysia pernah menurun 2 buah sekoci dari jarak 3 mil dari suar Karang Unarang yg sedang dilaksanakan perbaikan, lalu Kapal Perang Indonesia yang mengawal proses renovasi Suar tsb bergerak mendekat, lalu 2 sekoci itu lalu kembali pada kapal Malaysia dan pergi meninggalkan Perairan Suar Karang Unarang.

Suar Karang Unarang di Perairan Ambalat Merupakan salah satu bukti Sejarah perjuangan TNI AL dalam mempertahankan dan menjaga Kedaulatan NKRI harga mati.

Jaga Terus Wilayah Kedaulatan NKRI – Harga Mati

Dalam moment bersejarah bersamaan dengan Hari Ulang Tahun TNI ke 73 dilaksanakan pergantian Bendera merah Putih agar tetap Merah dan Putih berkibar kokoh di Perairan Perbatasan RI-Malaysia, dijadikan motivasi keep sprit bagi Prajurit yang berdinas lansung di Perbatasan agar jiwa Militansi dalam menjaga kedaulatan NKRI semakin bergelora, tegas Komandan Lanal Nunukan Letkol Laut (P) M. Mackri Mokoagow, M.Tr., Hanla, yang diwawancarai setelah selesai bertindak sebagai Irup pada saat Upacara HUT TNI di Makodim 0911 Nunukan, 5 Oktober 2018.

Dirgahayu TNI ke 73.
Profesionalisme TNI untuk rakyat. (Lanal Nunukan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *