125 KAPAL IKAN ASING DITENGGELAMKAN

Tarakan- Sebanyak 125 kapal asing yang melakukan illegal fishing ditenggelamkan dengan dikomandoi langsung Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Kota Bitung, Sulewesi Utara. Penenggelaman sendiri dilakukan Senin (20/8) secara serentak di 11 lokasi di Indonesia.

Tarakan menjadi salah satu dari 11 lokasi penenggelaman KIA. Dua kapal dengan nomor lambung SA-10/5/F dan TW.3518/6/F ditenggelamkan di perairan Tarakan. “Memang biasanya kami menggunakan bom untuk meledakkan KIA, sebagai upaya agar ada deterrence effect bagi KIA yang berencana melakukan illegal fishing di perairan Indonesia. Saya rasa sudah ada deterrence effect, sehingga metode penenggelaman diubah,” ungkap Rina, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Nantinya KIA yang ditenggelamkan, akan menjadi rumah ikan untuk berkumpul, lokasi yang dipilih menjadi lokasi fishing ground bagi nelayan setempat.

“Penenggelaman bertepatan momen Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73, penenggelaman KIA ini merupakan manifestasi kita yang memberikan pesan untuk merebut kembali kedaulatan sumber daya perikanan,” ungkapnya.

Penenggelaman kapal yang terdiri dari 120 KIA dan 5 kapal berbendera Indonesia dilakukan setelah adanya keputusan pengadilan yang berkuatan hukum tetap. “Ada 116 kapal yang ditenggelamkan setelah adanya keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, sementara 9 kapal lainnya ditenggelamkan setelah adanya penetapan dari pengadilan,” tuturnya.

Dari 125 kapal yang ditenggelamkan, kebanyakan KIA yang ditenggelamkan berasal dari Vietnam dengan jumlah 86 kapal. Menyusul Malaysia 20 kapal, Filipina 14 kapal dan Indonesia 5 kapal. “Berdasarkan data jumlah rekapitulasi jumlah kapal yang ditenggelamkan sejak Oktober 2014 hingga Agustus 2018 berjumlah 488 kapal, di mana KIA dari negara Vietnam yang banyak ditenggelamkan dengan jumlah 276 kapal,” bebernya.

Dirinya mengklaim ada penurunan jumlah kasus illegal fishing di perairan Indonesia. Satgas 115 yang terdiri dari TNI AL, Polair Baharkam Polri, Bakamla dan, PSDKP KKP memperketat pengawasan terhadap Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di wilayah perbatasan Indonesia, karena wilayah tersebut sering dimanfaatkan KIA mencuri ikan.

“Kasus illegal fishing saat ini saya rasa sudah turun, sebagai contoh kawasan Laut Aru, dulu kegiatan illegal fishing di sana pada malam hari terlihat seperti kota. Namun sekarang sudah sepi, meskipun ada kegiatanillegal fishing tapi tidak sebanyak dulu,” ujarnya.

Direktur Polisi Air (Dirpolair) Polda Kaltara Kombes Pol Heri Sasangka mengatakan, dua KIA yang ditenggelamkan, merupakan hasil penangkapan pada 2017 dan 2018. “Kapal dengan nomor lambung SA-10/5/F ditangkap pada 2017, sementara kapal dengan nomor lambung TW.3518/6/F ditangkap pada 2018,” tuturnya.

“Tahun ini kami akan fokus dan memperketat pengawasan di wilayah perbatasan, terutama di wilayah Karang Unarang, karena lokasi ini merupakan lokasi yang sering dimasuki KIA untuk melakukan illegal fishing,” tutup Heri.(MTR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *